Selasa, 27 Januari 2009

Mengunjungi Habitat Nepenthes di Tangkuban Perahu

Setelah lama menyimpan niat untuk melihat Nepenthes di alam, akhirnya datang juga kesempatan itu. Seminggu sebelumnya saya ditelepon oleh pak Uhan, rekan sesama pecinta Nepenthes dan anggota KTKI (Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia) yang tinggal di Soreang, sekitar 10 km dari rumah saya di Bandung. Beliau menanyakan apakah saya berminat menemaninya untuk melihat habitat Nepenthes gymnamphora di Gunung Tangkuban Perahu. Tanpa berpikir panjang saya menjawab, "ya".

Hari Minggu pagi tanggal 25 Januari 2009, menjelang pukul 9 WIB, kami berempat yaitu saya, pak Uhan, Gumilang (putra pertama pak Uhan) dan seorang penunjuk jalan sudah berkumpul di jalan raya perbatasan Tangkuban Perahu.Dari sana kami akan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam mendaki lereng gunung, melewati perkebunan teh dan menembus hutan. Di sebuah tebing, tersembunyi habitat Nepenthes yang belum terjamah para penjarah hutan, demikian cerita pak Jaenudin, penunjuk jalan kami.

Sedikit cerita tentang Pak Jaenudin, beliau dahulu adalah seorang buruh pabrik mekanik di Jakarta. Bertahun-tahun menghirup asap, debu dan serpihan material membuatnya sakit-sakitan sehingga beralih profesi menjadi pedagang nasi di Jakarta. Namun itu pun tidak membawa sukses sehingga dia memutuskan untuk tinggal di Lembang dan membuka warung makanan di pinggir jalan yang menjual indomie, jagung bakar, kupat tahu, diselingi tanaman hias seperti anggrek, pakis, dan rhododendron yang diperolehnya dari hutan. Dalam usia yang tidak muda lagi (sudah bercucu), pak Jaenudin masih tampak gesit dan sehat karena sering berjalan kaki keluar masuk hutan.

Di tengah-tengah hamparan kebun teh inilah tempat kami berdiri memandang ke arah jalan raya Tangkuban Perahu tempat kami tadi bertolak. Menurut sebuah tulisan yang saya baca, topografi kawasan ini secara umum bergelombang dengan lereng yang terjal. Ketinggian tempat mencapai 1.150 - 2.684 meter di atas permukaan laut.



Udara sedikit mendung tapi itu tidak menghalangi hasrat kami untuk terus berjalan.



Dan seperti inilah vegetasi tipikal yang terdapat di lereng gunung Tangkuban Perahu bagian bawah:





Buah ini rasanya tidak mengecewakan, biasa disebut sebagai arben leuweung, arbei hutan atau arben hutan. Dugaan saya termasuk marga Rubus, masih semarga dengan blackberry dan raspberry:



Rumah ini adalah rumah mantan orang kota yang jenuh tinggal di kota dan memilih untuk hidup jauh dari kehidupan modern. Di rumah ini tidak ada TV, yang ada hanya alam bebas:



Setelah menempuh pendakian sejauh 1-3 km, kami mulai memasuki hutan gunung yang didominasi berbagai jenis paku-pakuan (dari tulisan yang saya baca ada 200 jenis) dan tanaman Heliconia yang mirip dengan pisang. Saya berpose dulu di sini:



Sepertinya hujan belum lama turun, karena tanah sangat becek, seringkali dengan jalur turun-naik, dan kadang-kadang berada di pinggir jurang sehingga kami harus waspada. Tongkat kayu sangat bermanfaat di sini.





Dalam kondisi yang mulai kelelahan, berkali-kali kami harus berpegangan pada semak-semak di sebelah kiri dan kanan jalur pendakian. Adanya semak-semak ini berguna sekali untuk mengangkat badan ke atas atau menjaga jangan sampai terpeleset, tapi awas jangan sampai terpegang tanaman yang satu ini:



Tanaman ini adalah sejenis rotan, dan inilah yang mengherankan saya karena dulu saya selalu berpikir rotan hanya tumbuh di dataran rendah atau di rawa-rawa. Rotan seperti ini banyak sekali terdapat sepanjang perjalanan kami, dan itulah alasan utama mengapa golok, sarung tangan, topi dan pakaian tebal lengan panjang diperlukan. Tidak jarang batang-batang rotan itu rebah melintang menghalangi jalan kami.

Di tengah-tengah perjalanan kami menemukan air terjun yang pertama. Suatu pemandangan yang sungguh indah dan eksotis sekali:



Sebelum melanjutkan perjalanan, saya ingin memotret dulu perencana ekspedisi ini, siapa lagi kalau bukan pak Uhan "Nepenthes Lover" Suhanta:



Sampai di aliran sungai yang tak dalam tetapi berbatu-batu licin, kami berpose lagi, kali ini modelnya adalah Gumilang, pelajar SMP 1 Katapang, anak pertama pak.Uhan:



Kami berjalan terus sampai menemukan air terjun (curug - bhs. sunda) yang ke dua. Melihat air jernih mengalir seperti ini, hasrat narsisme pasti saja timbul, seperti pak Jaenudin yang berpose dengan goloknya:





Makin ke atas, makin banyak dijumpai pohon-pohon berlumut seperti ini:



Dan di pohon yang satu ini tumbuh jamur yang bentuknya seperti kuping, entahlah namanya apakah jamur kuping atau jamur kayu atau yang lain:



Entah karena lapar atau letih, kami sempat tersesat di hutan sehingga berjalan berputar-putar tanpa arah yang jelas selama satu jam. Namun dengan keberuntungan, doa dan sisa-sisa semangat, akhirnya kami sampai juga di sebuah tempat yang pernah dilihat oleh pak Jaenudin. Ini adalah air terjun yang tertinggi, menurut perkiraan kami tingginya lebih dari 30 meter.







Di dinding tebing yang terjal ini sebenarnya ada sekumpulan Nepenthes gymnamphora kantong bawah, tapi hanya bisa dilihat dari dekat dengan cara memanjat tebing, dan posisinya tidak memungkinkan untuk kami foto:



Gagal dengan sisi tebing yang satu, kami mengalihkan pencarian ke sisi tebing yang berhadapan. Di sini kami menemukan Nepenthes gymnamphora kantong bawah yang merambat di dinding tebing, tapi sayang obyeknya masih belum terjangkau kamera saku kami:





Dan tak berapa lama setelah itu kami (akhirnya) menemukan sebatang Nepenthes gymnamphora dengan kantong atas yang anggun, beserta buahnya juga (berhasil, berhasil....!!!):











Tidak sia-sialah rupanya perjalanan kami. Bagi saya ini adalah pertama kali melihat Nepenthes tumbuh di alam liar. Sebelumnya saya hanya melihat Nepenthes di rumah, atau di nurseri. Tapi di sana, nun jauh di gunung Tangkuban Perahu yang liar, dingin dan basah, ada perasaan lain dalam hati saya. Rasa ingin melindungi yang tulus, respek yang dalam kepada alam dan Sang Pencipta. Perasaan yang pasti dialami oleh banyak orang sebelum saya, tapi tetap saja terasa unik dan manis untuk dikenang.


Ditulis di Bandung, 27 Januari 2009.
Sofyan David S. (rajah - KTKI 003)

Behind the Scene:

Pak Jaenudin, duduk di atas tebing:



Menikmati jagung bakar di tengah gerimis sepulang perjalanan:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


 

Blog Template by Adam Every. Sponsored by Business Web Hosting Reviews